Jumat, 01 April 2011

PORIFERA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    LATAR BELAKANG
Porifera berasal dari bahasa Latin, porus yang berarti lubang dan ferre yang berarti membawa atau mempunyai. Porifera adalah salah satu anggota dari hewan invertebrate. Berdasarkan asal katanya, porifera merupakan anggota hewan yang berpori.
Dalam ekosistem, porifera memegang peranan yang penting dalam keseimbangan ekosistem. Sebagai salah satu hewan akuatik, hewan ini memiiki adaptasi yang tinggi yang memungkinkan ia bertahan dalam perubahan-perubahan  lingkungan akuatik. Walaupun hewan ini beum memiliki system saraf yang  sebagaimana yang terdapat pada hewan tingkat tinggi, namun ia dapat merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan.
Hewan porifera selama hidupnya menetap di karang atau permukaan benda keras di dasar laut. Hewan ini tidak memilki alat gerak pada masa dewasa sehingga  ia bersifat sessil. Ada sekitar  5.000 spesies dari porifera yang hidup tersebar dalam  lautan dan beberapa spesies yang hidup di air tawar.
Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menjumpai hewan ini sebagai karang yang  membawakan nilai estetika  dan telah menjadi bagian dari dunia pariwisata bawah laut. Oleh karena itu, hewan ini memegang peranan yang ekonomis  bagi kehidupan manusia. Namun, tidak dapat dibantah bahwa pengetahuan mengenai hewan ini  masih sangat kurang. Oeh karena itu, penyusun berupaya mengumpulkan informasi mengenai hewan ini sebagai tambahan pengetahuan bagi pembaca pada umumnya dan bagi penyusun pada khususnya.
1.2   RUMUSAN MASALAH
Dari uraian latar belakang tersebut, maka masalah yang hendak dikaji dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.       Bagaimana karakteristik utama porifera?
2.       Bagaimana klasifikasi hewan porifera?
3.       Bagaimana peranan porifera dalam kehidupan sehari-hari?
1.3   TUJUAN
Tujuan yang  hendak dicapai dalam makaah ini adalah sebagai berikut:
1.       Untuk mengetahui karakteristik utama dari ;porifera
2.       Untuk mengetahui klasifikasi hewan porifera
3.       Untuk mengetahui peranan porifera dalam kehidupan sehari-hari
BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN

                      2.1 CIRI-CIRI EKSTERNAL
Secara Umum, porifera memiliki bentuk simetri radial. Demospongia perairan dalam, Calcarea dan  Hexactinellida memiliki bentuk demikian pada masa dewasa. Demospongia laut dalam dapat tumbuh menjadi bentuk yang rumit seperti pada Ticiphonia, dan Cladorhiza. Tubuh yang pasti biasa ditemukan pada Tetractinomorpha dengan susunan rangka dengan pola radial, Contoh Tethya,. Tubuh yang berasal dari kondesasi serat-serat spikula kearah sumbu pusat seperti pada Biemna, Axinella. Tubuh porifera yang memiliki bentuk seperti vas, silinder dengan disertai pengerasan merupakan ciri utama dari Demospongia, dan beberapa diantaranya dapat tumbuh mencapai bentuk raksasa.
                      2.2 RANGKA
          Rangka merupakan salah satu yang mendasari pengelompokan porifera. Oleh karena itu rangka  memegang peranan yang penting untuk mengenal suatu spesies porifera. Rangka biasanya tersusun baik dari spikula yang disusun oleh kalsium karbonat, silica, atau skleroprotein terhalogenasi yang dikenal sebagai spongin B. Dalam banyak kasus, spikula silica diperkuat dengan serat spongin. Beberapa genus dalam protozoa tidak memiliki rangka, dimana tubuh spons dilindungi oleh Colencyma yang keras yang disebut spongin A, yang nmerupakan suatu kolagen yang menyusun fibril panjang tak bercabang  yang memiliki ukuran yang seragam, misalnya pada Oscarella dan Halisarca.
Calcarea dan Hexactinellida umumnya memiliki rangka dari spikula calcarea. Biasanya keduanya memiliki perbedaan dalam posisi. Calcarea umumnya memiliki rangka spikula silica yang dibedakan menjadi mikroskleres yang memiiki bentuk yang bervariasi dan megaskleres yang dinamakan demikian berdasarkan tempatnya pada sponging baik dermal, parenkmal, maupun gastral. Parenkimal megaskleres seringkali bergabung membentuk jaringan kerja rangka yang disusun pada suatu pola Hexactinal.
Demospongia menunjukan variasi  yang besar dalam pola rangka. Rata-rata Demospongia  memiliki bentuk rangka  mulai dari bentuk Halisarca yang tidak mmiliki rangka hingga spongin dengan jaringan yang kompleks. Spongin dan rangka spikula dapat mengalami kombinasi seperti halnya pada banyak Haplosclerida dan Poecilosclerida.Seain itu, megaskleres dapat pula tersusun secara radial seperti pada Geodia dari Ordo Choristida atau megaskleres tersusun menjadi setengah anyaman seperti pada Clathria dari ordo Poeciloscerida. Spongin dapat pula digunakan sebagai pengikat antar spikula seperti pada Adocis spp., atau bentuk fibres seperti pada Callyspongia atau detritus seperti pada Dysidea dapat pula ditemukan.

2.3. SISTEM ALIRAN AIR
Produksi dan pemeliharaan air pada spons merupakan aktivitas yang utama, yang mana menjadi suatu tindakan yang esensial sebagai suatu pompa  yang member kekuatan pada tubuhnya. Spons harus menjaga aliran air yang besar pada  tubuhnya dengan tekanan yang rendah. Dengan demikian pertukaran antara zat-zat dari lingkungan eksternal ke dalam lingkungan internal atau sebaliknya dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Beberapa tipe saluran air pada spons terdapat pada spons yang telah dewasa. Tipe yeng paling sederhana adalah asconoid seperti yang terdapat pada Leucosolenia. Tipe saluran yang lain adalah syconoid (gambar 3))dan leuconoid (gambar 4). Perbedaan dari ketiga tipe ini dapat dillihat pada tabel 1.
Tabel 1. Perbedaan tipe saluran asconoid, syconoid dan leuconoid
Faktor pembeda
Asconoid
Syconoid

Leuconoid
Dinding spons
Sederhana
Mengalami pelipatan ke luar dengan bentuk bentuk saluran radial
Tidak teratur
Koanosit
Lapisan dalam spongoesol
Lapisan saluran radial
Terbatas pada ruang-ruang berfagela
Mesenkim
Jumlah terbatas, lapisan sederhana Yang diewati porosit
Mengalami penebalan. Tidak semua yang dilewati porosit
Berkembang baik
Arah aliran air
Saluran pemasukan-spongoecoel-Oskulum
Poros dermal-Saluran pemasukan-prosofil-sauran radial-spongoecoel- apopiles-Oskulum
Poros dermal-ruang sub dermal-sauran pemasukan-prosofi-ruang berflagela-apopiles- saluran pengeluaran-Oskulum


2.4  PEMELIHARAAN ALIRAN AIR
 Flagela dari koanosit menyapu (memukul) dengan pola yang tidak teratur. Hal ini membuat aliran air masuk ke daam spons. Air memasuki ruang berflagela melewati prosofil yang membatasi  antara koanosit. Air meninggalkan ruang dengan melewati suatu lubang luas tunggal, yakni apopil yang merupakan celah-celah pada bagian epitel. Lumen pada apopil memiliki ukuran 10 kali lebih besar dari prosofil yang merupakan jalan masuk. Air masuk pada ruang tersebut dengan kecepatan 10 kali lebih cepat daripada ketika keluar.
2.5  SISTEM PENCERNAAN
Pada Spons, dermal ostia, saluran pemasukan, ruang berflagela dan pangkal koanosit merupakan seperangkat saringan yang bertingkat. Pada spons air tawar diameter ostia adalah sekitar  50 mikrometer, prosofil 5-10 mikrometer dan ruang antara tentakel sitoplasmik  0,1-0,15 mikrometer. Hanya partikel-partikel kecil yang dapat masuk pada pori-pori spons. Partikel terperangkap dan melewati sel-sel tubuh, kemudian dicerna.  Partikel yang ebih besar yang masukk dalam spons dicerna oleh Archaeocytes. Partikel lain yang tiadk dapat melewati ostia dapat dicerna oleh pianosit dari epitel dermal.
Dari percobaan terhadap spons air tawar diketahui bahwa archaeocytes memegang peranan utama dalam proses pencernaan. Makanan ditransfer ke sel-sel dari melalui koanosit dan dicerna saat arcahaecytes bergeser kearah dinding saluran pemasukan atau padapermukaan spions dimana material yang tidak dapat dicerna dari vokuola. Hasil uji kadarlogam dari aktivitas enzim-enzim pencernaan menunjukan bahwa koanosit memiliki lebih banyak proteolitic, lipolitic, dan enzim pencerna karbohidrat daripada archaeocytes.
Dalam beberapa kasus, digesti berlangsung secara intrasel seperti halnya pada protozoa. Makanan spons adalah algae uniseluler, bakteri dan detritus organic. Pencernaan menghasilkan glikogen, lemak, dan glikoprotein yang disimpan dalam tempat penyimpanan yang dikenal sebagai Thesocytes.
2.6 PERILAKU
Secara umum perilaku yang umum dijumpai pada porifera meliputi :
a)   Lokomosi
b)   Perubahan warna
c)    Sekresi Lendir
d)   Kontraksi

2.7 REPRODUKSI DAN PERKEMBANGAN
2.7.1 REPRODUKSI ASEKSUAL
Reproduksi aseksual meliputi dua hal,yakni gemmula dan budding. Produksi gemmula adalah ciri dari siklus hidup pada semua spons air tawar dan ditemukan pula pada beberapa spons yang hidup dilaut. Gemmulae adalah bentukan dari masa archaeocytes yang dilengkapi dengan cadangan makanan. Padaspons air tawar, massa sel dalam dikelilingi oleh suatu lapisan sel-sel kolumnar yang mensekresikan selubung spongin. Tujuan dari produksi gemmula adalah untuk memungkinkan spons bertahan pada kondisi lingkungan yang kritis seperti kekeringan, ataupun suhu yang sangat dingin.
Budding dan tunas umum dijumpai pada spons dan merupakan proses penyebaran yang paling baik pada spons-spons daerah intertidal.
 2.7.2 REPRODUKSI SEKSUAL
Reproduksi seksual terdapat pada sebagian besar spons. Sel-sel kelamin jarang terlihat pada Choristida dan ini memungkinkan bahwa larva pada kelompok ini sering terlihat muncul secara bersama-sama pada Archaecytes. Choristida, Epipolasida, Hadromerida dan banyak Axinellida  bersifat ovipar. Spons yang lain bersifat vivipardan menghasilkan larva.Fertilisasi pada spons sangat khas. Sperma dibawa ke sel telur oleh sel pembawa yang berasal dari koanosit. Pada Tethya, untuk hal yang mendesakpembuahan telur tidak terjadi dan segmentasi untuk membentuk morula berlangsung normal dan cepat. Sel terluar dari blastula ini menjadi flagella. Gastrulasi terjadi ketika larva terbentuk. Epitel pinosit terbentuk pada bagian luar. Spons bersifat hermafrodit namun sel sperma yang membah sel telur berasal dari spons yang berbeda.
2.7.3 REGENERASI  
            Spons memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi. Potongan-potongan koloni dapat tumbuh kembali mejadi individu yang fungsional.


2.8 KLASIFIKASI PORIFERA
2.8.1 Kelas Calcarea
        Calcarea merupakan spons yang hidup di laut. Spons ini memiki kerangka spikula dari zat kapur yang tidak terdeferensiasi menjadi megaskleres dan mikroskleres. Bentuk spons ini bervariasi dari bentuk yang menyerupai vas dengan simetri radial hingga bentuk bentuk koloni yang membentuk bangunan serupa anyaman dari pembuluh-pembuluh yang kecil hingga lembaran dan bahkan ada yang mencapai bentuk raksasa.
a.    Sub kelas Calcaronea
Ciri khas dari sub kelas ini adalah larvanya yang berupa  larva amphibalstulae. Koanosit terletak pada posisi apical. Flagela dari tiap koanosit muncul dari nucleus. Spikula triradiate biasanya satu helai yang terpanjang dari yang lain . Struktur tipe saluran air yang ada pada sub kelas ini berupa tipe leuconoid yang berasal dari tipe syconoid.
1.    Ordo Leucosolenida
Tipe ini memiliki struktur Asconoid. Contoh Leucosolenia
2.    Ordo Sycettida
Tipe saluran air yang ada pada ordo ini ada yang berupa Syconoid atau Leuconoid. Contoh Sycon
b.   Sub Kelas Calcinea
Ciri khas yang ada sub kelas Calcinea adalah larvanya yang berupa parenchymula dan flagella dari koanosit muncul tersendiri dari nucleus koanosit yang menempati  dasar sel.Pada sebagian besar spesies triradiata , spikula memiliki ukuran yang sama. Bentuk Leuconoid yang ada pada sub kelas ini tidak berasal dari tipe syconoid tetapi langsung berupa anyaman dari asconoid.
1.    Ordo Clathrinida
Ciri khas dari ordo ini adalah tipe saluran airnya berupa asconoid yang secara permanen serta tidak memiliki membrane dermal atau korteks. Contoh Clathrina
2.    Ordo Leucettida
Ciri khas dari Ordo ini adalah tipe saluran air yang berupa Syconoid hingga Leuconoid dengan membrane dermal atau korteks yang jelas. Contoh Leucascus levcetta.
3.    Ordo Pharetronida
Ciri khas yang ada pada ordo ini adalah tipe saluran airnya yang berupa Leuconoid dan rangka tersusun dari  spikula quadriradiata yang disertai penguat calcareous. Contoh Petrobiona dan Minchinella.
2.8.2       Kelas Hexactinelida

Hexactinelida merupakan porifera yang tersebar luas pada semua lautan. Habitat utama dari porifera ini adalah pada lautan dalam. Ciri yang membedakan kelas ini dari kelas lain adalah kerangkanya yang disusun oleh spikula silikat. Kerangka spons pada kelas hexactinelida tidak memiliki jaringan spongin. Sel epithelium dermal dan koanosit terbatas pada bentuk-bentuk  ruang yang tersembunyi.
a.    Sub Kelas Hexasterophora
Ciri khas yang ada pada subkelas ini adalah microscleres parenchimalnya berupa hexaster. Contoh Euplectella
b.   Sub Kelas Amphidiscorpha
Ciri utama pada sub kelas ini adalah microscleres parenchimalnya berupa Amphidics. Contoh Hyalonema
2.8.3    Kelas Demospongia

Porifera yang termasuk dalam kelas Demospongia memiliki kerangka berupa empat spikula silica atau dari serabut spongin atau keduanya.  Beberapa bentuk primitive tidak memiliki rangka. Tipe saluran air yang ada pada spons ini berupa Leuconoid. Porifera yang masuk dalam kelompok Demospongia memiliki penyebaran yang paling luas dari daerah tidal hingga kedalaman abvasal. Beberapa bentuk memiliki habitat di air tawar.

a.    Sub kelas Tetractinomorpha
Ciri Utama dari sub kelas Tetractinomorpha adalah memiliki megaskleres tetraxonid dan monoxonid, mikroskleres asterose dan kadang-kadang tidak memiliki serat spongin. Tubuh spons ini memiliki bentuk  radial dan perkembangan cortical  axial mengalami kemajuan. Kelompok ini mencakup spesies ovipar dengan stereogtastrula. Famili yang primitive menetaskan amphiblastulae.
1. Ordo Homosclerophorida
Porifera dalam ordo ini merupakan Tetractinomorpha primitive  yang memiliki struktur Leuconoid homogen dengan sedikit dareah terdeferensiasi . Larva menetas berupa amphiblastula. Spikulanya berupa teract berukuran kecil. Beberapa  spesies tidak memiliki rangka seperti pada Oscarella.
2.    Ordo Choristida
Porifera yang termasuk ordo Choristida paling tidak memiliki beberapa megaskleres tetraxons, biasanya berupa triaenes, mikroskleres berupa aster, sterptaster atau sigmasprae yang khas. Bentuk tubuhnya seringkali  rumit. Spons ini memiki korteks yang dapat dibedakan secara jelas dan seringkali tersusun atas lapisan fibrosa di sebelah dalam dan lapisan gelatin di bagian luar.  Contoh Geodia dan, Aciculites.
b.   Sub Kelas Ceractinomorpha
Ciri utama yang menjadi dasar pengklasifikasian dari sub kelas Ceractinomorpha adalah larvanya yang berupa stereogastrula, megaskleresnya berupa monaxonid, dan mikrosklesesnya berupa sigmoid atau chalete. Aster tidak pernah ditemukan. Pada rangkanya juga sering ditemukan sponging B tetapi dalam jumlah yang bervariasi.
1.    Ordo Halichondrida
Porifera yang ada dalam ordo Halichomonacndrida memiliki Kerangka megaskleres berupa monactinal dan atau diactinal serta tidak memiliki microskleres. Contoh Halichondrida, Hymeniacidon dan, Ciocalypta.

2.    Ordo Poecilosclerida
Porifera yang masuk dalam ordo ini memiliki rangka yang selalu mengandung megaskleres choanosomal dan dermal.  Contoh Coelosphoera dan Myxilla.
3.    Ordo Haplosclerida
Porifera ini kadang-kadang memiliki rangka silikat yang jika ada terbuat dari kategori tunggal dari megaskleres yang terletak pada serat spongin atau bergabung dalam suatu anyaman yang diikat dengan perekat spongin. Contoh Haliclona,. Megaskleresnya  berupa diactinal dan kadang-kadang berupa monactinal yang sedikit bervariasi dalam hal ukuran. Jika ada, mikroskleresnya berupa Chelate, taxiform, sigmoid atau raphdes.
Beberapa genus seperti Dactylia tidak memiliki spikula dan mempunyai rangka dari serat sponin. Rangka dermal berspikula tidak pernah ada . Dermal yang terspesialisasi hanya terlihat pada Callyspongiidae dimana suatu jaringan yang kompleks dari serat spongin bercabang-cabang menembus lapisan dermal. Contoh Callyspongia
4.    Ordo Dictyoceratida
Porifera  yang masuk dalam ordo Dictyoceratida tidak meiliki spikula. Rangka sepenuhnya tersusun dari suatu anyaman  dari serat spongin yang bisa menyertakan partikel lain seperti pasir,kerang ,spikula atau spons lain. Lapisan dermal sering diperkuat oleh spongin A.
2.9 CONTOH SPESIESSycon gelatinosum
2.9.1 Habitat
Sycon gelatinosum adalah spons yang hidup dilautan sedang. Spons ini terdapat pada daerah litoral hingga kedalaman 60 meter.
2.9.2 Morfologi Umum                                                          
Bentuk luar dari spons dewasa bervariasi, mulai dari berupa tabung tunggal sampai koloni dari tabung-tabung tunggal. Sebuah lubang pengeluaran  tunggal (Osculum) terdapat pada bagian apical pada tiap-tap tabung dan pada beberapa kasus dikelilingi oleh rumbai-rumbai dari spikula calcarea.
Spons hidup rata-rata berwarna putih keabu-abuan hingga coklat menyala, halus, berlendir dan tidak pernah lebih dari 60 cm tingginya. Dengan pembesaran yang tajam, permukaan spons tampak terbuat dari penonjolan-penonjolan polygonal yang berdiameter kira-kira 0,25 mm dimana pada penonjolan tersebut suatu poros muncul.
Dalam suatu irisan longitudinal dari unit tubular, osculum terlihat sebagai suatu bukaan dari lubang sepanjang pembuluh hingga pelebaran pada dasar dimana ia berhubungan dengan saluran sejenis yang berbatasan dengan system oscular. Lubang ini dikenal sebagai spongoecoel dan dindingnya berlubang-lubang dengan sejumlah pori.. Saluran-saluran tersebut merupakan diverticula yang mirip jari-jari dari spongoecoel oleh batasan dari sisi permulaan bukaan internal ke lubang kecil yakni apopyle.
Selain apopyl, ada pula yang dikenal dengan prosofil. Pada spons spons asconoid tiap-tiap saluran melewati substansi  dari sel tunggal. Suatu porosity yang memiliki kemampuan untuk mengatur aliran air dengan mengatur aliran air dengan menutup diafragma yang melintang pada lubang pemasukan. Pada tipe syconoid, prosofil merupakan saluran-saluran interseluler.
2.9.3 Struktur Mikroskopis
Pada suatua irisan melintang dari tubuh spons, penghubung dari saluran pemasukan dan saluran radial dapat terlihat dan perbedaan histology dari kedua saluran ini dapat ditentukan. Ostia dermal memberikan akses pada saluran pemasukan yang dbatasi oleh sel-sel polygonal yakni pinakosit. Dinding dari saluran pemasukan terbagi-bagi oleh alur-alur pendek yakni prosofil yang melintasi spikula menghubungkan mesenkim ke daerah terbuka di batas saluran radial. Pada ujung bagian luar dari dinding beberapa saluran pemasukan bergabung dan membentuk korteks.
Koanosit yang membatasi saluran radial menyiapkan energy penting untuk memungkinkan aliran makanan. Sel-sel tersebut dilengkapi dengan suatu sel besar yang menyolok. Padabagian apical terdapat nucleus yang mengalami pelanjutan membentuk flagella. Saluran-sluran radial menyempit secara tajam pada akhir proximal dan dibuka oleh apopil pada spongoecoel. Apopil adalah saluran intraseluler yang dikelilingi oleh endopinosit kontraktil.
2.9.4 Rangka
Pada Sycon gelatinosum ada tiga kategori spikula dari calcareous, dimana tiap kategori spikula menduduki posisi spesifik pada spons.Spikula pada permukaan dan rumbai-rumbai oskulum adalah oxea diactinal dengan ujung-ujung lanset. Padamesenkim antara saluuran radial dan saluran pemasukan utama membentang spikula triradiata (triaxon) dengan lempeng-lempeng ujung yang panjang  yang mengarah ke eksterior.  Pada bagian dalamnya ada suatu lapisan dari campuran spikula triradiate dan quadriradiate. Tiap-tiap helai spikula tersebut menonjol kea rah spongocoel.
Pada posisi dimana lapisan triradiata berada adalah sub-endosomal yang berupa lapisan  endosomal triradiate-quadriradiate. Walaupun fungsi utama dari rangka kapur (calcareous) adalah hanya sebagai pendukung, namun rangka tersebut juga untuk menyangga mesenkim.
Spikula cortical diactinal disekresikan oleh sel-sel binukleate yang disebut scleroblast. Suatu benang organic aksial meluas di antara di antara kedua nucleus dan kalsium karbonat diletakan di sekelilingnya. Setelah spikula memanjang, sel membelah. Satu sel sebagai perintis membangun bentuk spikula. Lapisan calcium karbonat ditambahkan terus menerus untuk mempertebal spikula. Proses yang sama terulang untuk tiap helai spikula triradiate atau quadriradiate. Setelah sekresi spikula selesai, skleroblast mengembara dalam mesenkim.
2.9.5 Histologi
Sel-sel khusus yang terdapat pada porifera   meliputi:
a.       Pinakosit; Sel-sel kontraktil, lurus, dan inti sel menempati rongga-rongga dalam lapisan internal dan epidermis. Pada bagian dalam terdapat pinakosit yang dikenal sebagai endopinakosit
b.      Amoebosit; beberapa tipe amubosit terdapat menyebar dalam mesenkim semi gelatin. Pigmen amoebosit dikenal sebagai Chromosit yang berisi cadangan makanan, thesocytes berkaitan dengan sekresi rangka, scleroblast yang berkaitan dengan proses regenerasi dan perbaikan, dan archaeocytes yang berkaitan dengan pencernaan makanan.
c.       Mycocytes; Penggabungan sel-sel kontraktil yang berasal dari pinakosit dan biasanya terusun melingkar di sekeliling pori atau saluran.
d.      Choanocytes; Berfungsi menhghasilkan aliran air, makan dan reproduksi
e.      Cellencytes; Sel-sel berbentuk bintang dengan pemanjangan protoplasma yang panjang, tipis yang bercabang-cabang sepanjang system saluran pemasukan. Kalau memiliki dua kutub, Cellencytes dikenal sebagai desmocytes atau sel fibre.
2.9.6 Reproduksi Seksual dan perkembangan
Sel-sel seks muncul dari sel-sel berflagela pada larva, yang pada keduanya berasal dari koanosit dewasaatau archaeocytes, dan biasanya terdapat pada pinggir mesenkim dari lapisan koanosit. Sel-sel telur bersifat amuboid padatahap awal dan mengembara dalam mesenkim kelapisan koanosit dasar dalam upaya pencarian terhadap sel-sel nutritive. Sperma tidak memasuki sel telur langsung tetapi dimediasi oleh koanosi yang menyerap  sperma, melepaskan penutupnya dan flagellum lalu pindah keposisi yang dekat dengan sel telur. Sperma melepaskan ekornya dan masuk dalam sel telur ketika sel-sel pembawa terabsorbsi.
Tahap awal dalam perkembangan berlangsung “in situ.” Pembelahan meridional secara berturut-turut diikuti dengan suatu pembelahan equatural untuk menghasilkan embrio yang memiliki 16 sel. 8 sel berbatasan dengan dinding dari saluran radial adalah bakal sel 2 epidermal, sisanya dalah bakal calon Choanocytes. Pembagian akhir berlangsung cepat dan menghasilkan internal sementra agaknya sel-sel epidermal tidk membelah pada beberapa waktu dan membentuk suatu kelompok khusus dari 8 sel bundar yang besar-besar yang dikenal “Macromeres”
Pada bagian tengah dari kelompok micromeres ada suatu bukaan yang berfungsi sebagai mulut dan berbatasan dengan koanosit. Ini adallah tahap stomoblastula. Sel-sel epidermis kemudian memperbanyak diri. Mulut menutup dan embrio dikenal sebagai blastula dengan flagella internal.
Selanjutnnya, mulut pada blastula membuka dan meluas untuk membongkar sel-sel flagella. Pada tahap ini lempengan sel-sel melengkung kea arah luar yang mengakibatkan endoflagela berada di luar dengan embrio yang dihasilkan berupa amphiblastula. Amphiblastula ini selanjutnya berkembang menjadi porifera dewasa.
2.9.7 Klasifikasi
Kingdom                     : Animalia
Filum                            : Porifera
Kelas                            : Calcarea
Sub Kelas                   : Calcaronea
Ordo                            : Leucosolenida
Famili                           : Sycettidae
Genus                         : Sycon
Spesies                       : Sycon gelatinosum

2.10.     PERANAN PORIFERA

a.     Sebagai makanan hewan laut lainnya
b.    Sebagai sarana kamuflase bagi beberapa hewan laut
c.     Sebagai hiasan akuarium
d.    Sebagai alat penggosok untuk mandi dan mencuci
e.    porefera yang dijadikan obat kontrasepsi (KB)
f.      Sebagai campuran bahan industri (kosmetik)


BAB III
PENUTUP
3.1  Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan studi literature, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
a.      Porifera adalah hewan yang berpori umumnya hidup diperairan
b.      Porifera diklasifikasikan menjadi tiga kelas berdasarkan zat penyusun spikulanya, yakni Calcarea, Demospongia dan Hexactinelida
c.       Porifera memiliki tiga tipe saluran air, yakni Syconoid, Asconoid dan Leuconoid
d.      Sel-sel khusus yang menjalankan peranan fisiologis pada porifera meliputi : Pinacocytes, Amoebocytes, Mycocytes, Choanocytes dan Cellencytes.
e.      Porifera berkembang biak secara vegetative dengan tunas, bidding, dan gemmulae serta secara generative de ngan menghasilkan larva
f.        Porifera memiliki peranan bagi manusia sebagai bahan penggosok dan penghias aquarium
3.2  Saran
Saran yang kami berikan dalam makalah ini adalah sebaiknya pembahasan materi porifera dibagi dalam beberapa ruang lingkup karena materi porifera sangat luas. Dengan demikian, pembahasan dalam makalah akan lebih terarah pada satu topic.

DAFTAR PUSTAKA

Marshal,A.J dan Phil, D. 1992. Text Books of Zoology Invertebrata. Melbourne University: Australia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar